Selasa, Oktober 27, 2009

Manusia Setengah Malaikat


Manusia Setengah Malaikat

:yons achmad


Tidak ada kebahagiaan

dalam memiliki atau mendapatkan,

kebahagiaan hanya ada dalam memberi


Henry Drummond (1851-1860)

Pujangga Kanada



Kau pernah menjumpai manusia setengah malaikat? Apa, belum? Saya pernah, bahkan berkali-kali. Mungkin, kau masih sedikit terbingung maksudnya apa. Begini. Malaikat, seperti yang kita mengerti, dia makluk yang boleh dikata serba baik. Segala ciri kebaikan melekat padanya. Jika malaikat semacam ini, makluk yang disebut iblis adalah kebalikannya. Segala keburukan dilekatkan padanya. Sementara, manusia berada di tengah-tengahnya.


Ia bisa baik, bisa buruk. Manusia setengah malaikat, ia hanya gambaran untuk memudahkan pendefinisian saja. Ia, bagi saya adalah manusia biasa, dengan beragam profesi yang dimilikinya, tapi dia, pada suatu ketika, tanpa kita sangka menjadi penolong bagi permasalahan hidup kita. Dan, diam-diam ketika kita mempunyai sesuatu yang berharga, kita akan begitu rela memberikan kepadanya.


Dia ada di mana-mana. Kau mungkin pernah menonton reality show di televisi bertajuk “Tolong”. Kira-kira gambarannya semacam itu. Di sana (walaupun mungkin ada rekayasa tayangan), kita bisa menyaksikan bagaimana orang-orang, para manusia setengah malaikat memperlihatkan ketulusan suci. Seperti salju di gunung, hatinya selalu bersih, putih. Sebuah laku kebajikan tanpa pamrih sedikitpun. Tak pernah membayangkan akan menerima imbalan setelah melakukan sebuah kebajikan tertentu.


Lantas, bagaimana nasib kita? Mungkin kita pernah ditolong oleh manusia setengah malaikat itu. Manusia yang datang pada saat yang tepat. Dikala kita dirundung sedih, ketika nasib terasa malang, dia datang. Dengan uluran hati yang tulus, dengan uluran tangan yang ringan membantu menyelesaikan permasalahan kita. Atau, sekedar mau menerima curahan hati kita yang tak semua orang mau mendengarnya. Dan, itu sudah cukup membuat kita lega setelah meluahkan segala beban yang ada.


Ketika kita mendapati makluk yang demikian, tentu kita merasa sangat senang. Seolah, dia adalah makluk yang sengaja diutus Tuhan. Makluk yang sengaja diturunkan untuk menolong kita. Meringankan beban kita, memberi jalan keluar atas beragam kesusahan dan problem yang melanda kita. Sementara, kita diam-diam menjadikannya benar-benar pahlawan dalam kehidupan kita yang hanya sepotong ini. Kita benar-benar berhutang budi kepadanya.


Manusia setengah malaikat. Tak usah jauh-jauh, kadang, ternyata ia bukan orang lain. Dia bisa jadi kedua orang tua kita, saudara-saudara kandung kita, orang-orang terdekat kita. Singkatnya dia adalah orang yang dengan susah payah mencoba menyayangi kita, tapi kita kadang melupakannya. Ya, orang-orang yang selalu menolong kita, sebegitu seringnya hingga tak kita sadari betapa begitu besar jasanya bagi kehidupan kita.


Jika mau jujur, sebenarnya manusia setengah malaikat itu nyata adanya. Dan dia itu begitu dekat dengan kita. Jangan melihat mereka dengan mata, tapi dengan hati kita. Jika kita sudah mengingat nama-nama mereka, manusia setengah malaikat itu, alangkah bijaknya kita cepat-cepat membalas kebaikannya. Jika belum sempat, setidaknya sebuah ucapan terimakasih yang paling tulus kita berikan dari lubuh terdalam hati kita.


Jika sudah, yang perlu kita pikir sama-sama, kapan kita bisa menjadi manusia setengah malaikat untuk orang lain? Ah, betapa malunya ya dengan prestasi kebaikan kita.


Rumah Kelana, 27 Oktober 2009/ 23.52.

Kamis, Oktober 15, 2009

(Resensi) Perahu Kertas

Dee : Cinta, Impian dan Kejujuran


Judul Buku : Perahu Kertas
Penulis : Dewi “Dee” Lestari
Penerbit : Bentang Pustaka, 2009
Tebal : 444 hal.
Harga : Rp.69,000,-


Di musim paceklik yang terus mengendus, puji Tuhan, bersyukur masih bisa membeli sebuah novel. Kali ini karya Dewi “Dee” Lestari yang berjudul Perahu Kertas. Tak rugi saya mengeluarkan sekian rupiah untuk bisa membaca buku ini. Bagi saya, novel itu semacam pelipur kepenatan dan kebosanan. Dan, novel Dee ini, setelah saya membaca tuntas, bisa membuat saya tersenyum, merenung dan tentu saja memaksa diri belajar kembali tentang rasa kehidupan yang sekian lama terjalani. Saya suka novel ini.


Novel ini, bergenre populer, khas gaya tutur anak muda perkotaan, terutama nampak dalam dialog-dialog di dalamnya. Begitu juga kisah seputar kuliah, buku dan pesta ada dalam cerita. Agak berbeda misalnya dengan “Filosofi Kopi” yang cenderung serius, naratif dan jarang melibatkan kelucuan serta kekoyolan. Entahlah, mungkin ini semacam terobosan untuk lebih dekat dengan pembaca. Orang Indonesia, khususnya anak-anak muda itu sudah bersyukur mau membaca, tak bijak membebani pembaca dengan hal-hal yang berat. Mungkin, itu alasannya. Mungkin.


Jujur, diawal cerita saya agak kebingungan dengan nama-nama khususnya nama Kugy dan Keenan. Nama yang asing bagi saya bahkan sempat bingung membedakan perempuan atau lelakikah, entahlah mungkin saya yang diawal kurang teliti membacanya. Selanjutnya, banyak tokoh di dalamnya seperti Eko, Noni, Wanda, Ojos, Pak Wayan, Adri, Lena, Remi, Luhde, Bimo dll. Sulit, untuk menceritakan kembali kisah mereka. Setelah saya timbang dan pikir, rasanya kok fokusnya Dee ingin menonjolkan kisah Kugy dan Keenan. Begitu yang saya tangkap. Dari kisah keduanya, saya membaui ada sekira tiga hal yang ingin disampaikan Dee, tentang Cinta, Impian dan Kejujuran. Ini menurut bacaan saya. Maaf kalau salah.


Cinta : Ya. Novel ini berkisah tentang cinta yang dipendam oleh Kugy dan Keenan. Keduanya teman satu kampus di Bandung. Bagai langit dan sumur. Begitu kata Dee untuk menggambarkan keduanya. Mereka saling mengangumi satu sama lain. Namun, keduanya sama-sama tak mampu untuk mengungkapkannya. Dan, keadaanpun rupanya tak memungkinkan.


Impian : Kugy, adalah cewek berantakan yang ngebet pingin jadi juru dongeng. Sementara Keenan sangait bercita-cita menjadi seorang seniman, seorang pelukis. Impian tak mulus. Kugy harus melewati hidup dengan realistis menjadi seorang copy writer, sementara Keenan malah harus berbalik arah cukup dratis, bekerja mengurusi perusahaan trading milik ayahnya. Namun, mereka selalu yakin dengan mimpinya. Tak ada yang lebih indah selain keduanya saling mendukung. Dan, begitulah Dee meramu ceritanya dengan apik di dalamnya. Seolah berkata “Jangan Takut Bermimpi”

Kejujuran : Inilah akhir cerita yang mengharu biru. Keduanya (Kugy dan Keenan) sempat berpisah sekian lama. Kugy, sudah punya kekasih bernama Remi, bos di kantornya. Sementara, Keenan juga sudah punya kekasih gadis Bali, Luhde namanya. Cerita begitu rumit. Namun, akhirnya Remi sadar bahwa hati Kugy hanya untuk Keenan, sementara Luhde juga sama, walau rasa cinta itu ada, hati Keenan hanya untuk Kugy. Ini kejujuran pertama. Kejujuran kedua, ketika Kugy dan Keenan jujur membuka hati, melepas ego masing-masing, jujur keduanya saling mencintai.


Kisah yang dipenuhi gelak tawa, kekonyolan, ke-egoan, persahabatan dan tangis ini sungguh begitu manusiawi. Dan, siapapun pasti tersentuh ketika membacanya. Wajar, Dee memang tak main-main menggarap novel ini, butuh sekira 11 tahun mewujudkannya, dan yang pasti ia menulis dengan hati. Hasilnya tentu akan sampai ke hati pula. Jika ditanya apa komentar saya selanjutnya, dengan singkat mungkin saya akan berkata “Novel ini perlu diangkat ke layar lebar, itu saja”. (yons achmad)

Selasa, September 29, 2009

Ziarah "Cinta" Lebaran


Ziarah "Cinta" Lebaran

Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.

(Rumi, penyair sufistik)

Lebaran 2009, saya mengawali dengan berziarah.

Pada sebuah pemakaman, seorang ibu bercerita,
tentang anaknya yang telah meninggal dunia.

Saya, dengan khusuk mendengarnya.
Kira-kira, seperti ini kisahnya...

Anaknya tutup usia pada umur yang masih cukup muda, 19 tahun. Doddy Makoto namanya. Sekira beberapa tahun silam. Baru saja lulus SMA. Rasanya, mana ada seorang ibu yang tak sedih dan berduka pertamakali mendengar kabar anaknya telah meninggal. Kesedihan itu nampak ketika saya mendengar tuturna, walau kemudian saya menyadari pelan-pelan sejatinya wajah keikhlasan yang diperlihatkannya.

Kematian itu karena sebuah kecelakaan motor. Waktu itu anaknya membonceng motor temannya pada kecepatan tinggi, 110 km/jam. Cukup kencang memang. Lalu tiba-tiba motor menabrak pohon. Dan terlempar ke jalan. Anaknya masuk rumah sakit sebentar dan dinyatakan meninggal. Sementara temannya yang di depan hanya luka, tak sampai kehilangan nyawa. Kejadian tersebut tentu membuat terkejut seluruh anggota keluargannya pada waktu itu.

Tak ada tanda-tanda berarti sebelum kejadian itu...

Hanya, sang ibu bercerita ada sedikit yang beda. Anak lelakinya itu, beberapa hari sebelum meninggal begitu dekat dengan sang ibu. Ia juga tiba-tiba berpesan rada aneh, justru kepada ibunya. Katanya “Mah, jangan marahin adek-adek ya kasihan”. Sederhana memang, tapi itulah kata-kata terakhir yang dikenang sang ibu. Selain itu, sebuah pesan kecil, kalau bisa tembok rumah segera dicat. Katanya biar kalau teman-temannya datang nggak malu-maluin. Maklum, adek-adeknya, karena masih anak kecil sering corat-coret tembok.

Begitulah. Saya tak tahu. Mungkin ini yang sering disebut orang dengan firasat. Sebuah peristiwa yang kadang dialami oleh mereka yang akan ditinggalkan orang tercinta disekitarnya. Entahlah, saya hanya sekedar mengikuti cerita itu. Setelahnya, saya dan beberapa anak sang ibu tersebut mendekat ke makam. Mulai berdoa, semua terdiam, menunduk, memohon doa agar almarhum mendapat kebahagiaan di alam sana. Lalu sama-sama menabur bunga di atas makam itu.

Bagi saya, ini sebuah pengalaman religius tersendiri. Sengaja ziarah ke sebuah makam, jujur seingat saya belum pernah melakukan. Bahkan untuk khusuk mendoakan orang yang telah meninggal, kayaknya juga belum pernah. Dan pengalaman ini tentu saja membuat diri semakin ingat bahwa kematian itu kadang datang tiba-tiba. Menjadi sebuah momentum berkomtemplasi, menjadi bahan perenuangan agar semakin sadar untuk memanfaatkan umur sebaik mungkin. Tentu dengan amal-amal baik yang menyertai sebagai bekal kembali.

Sementara, dari pertemuan dengan sang ibu tadi, walau sementara, saya juga mesti belajar tentang arti ketabahan, keikhlasan dan tentu saja kesabaran. Bagaimana tidak, sang ibu tadi, sependek yang saya tahu, sampai kini telah berhasil membesarkan ke-enam anaknya seorang diri. Ya, seorang diri. Suaminya, entahlah, saya belum berkesempatan mendengar kabarnya.

Salah satu anaknya, kebetulan sahabat baik saya. Dia seorang muallaf walau telah memakai jilbab (gaul sih), gadis pecinta buku, perempuan mengasyikkan dan enak diajak ngobrol dan tentu saja dia itu lucu. Walau Soal selera semuanya memang berbeda. Contoh kecil saya suka merah, dia suka biru, saya anti cabe, dia sangat suka makanan pedas, dia begitu suka duren, saya nggak doyan sama sekali, dia slowr rock, saya punk rock, saya ingin jadi novelis, dia ngebet banget jadi artis. Yang terakhir ini, setiap saya tanya kembali selalu kukuh. Jadi artis. Buset dah. Tapi saya tahu dia hanya becanda. Ho..ho.

Semoga sifat-sifat baik sang ibu tadi menurun kepada anak-anaknya. Termasuk menurun pada anak gadisnya yang satu itu.

Setelah beberapa lama, dan matahari mulai genit dengan sinar panasnya, kami pun meninggalkan pemakaman di bilangan Jakarta Selatan itu. Pelan, kami meninggalkan rumah terakhir manusia itu. Iseng saya kembali menoleh ke belakang.

Barisan pohon-pohon dan dedaunan ikut menggoda, seolah berkata “Kawan, semoga sang ibu itu kelak menjadi ibumu juga”....

Teringat Novel Sang Al-Chemist karya Paulo Coelho, penulis idola saya

“Ketika kamu punya keinginan baik, maka seluruh alam raya akan bersatu padu mendukungmu”

Dan, saya hanya bisa tersenyum...

Rumah Kelana, akhir September 2009

Jumat, September 18, 2009

Jangan Gulung Sajadahmu


Jangan Gulung Sajadahmu
:yons achmad

“Jangan buru-buru kau gulung sajadahmu,
meski Ramadhan kan berlalu
karena ibadah tak kenal waktu”

Banyak cara menyentil hati. Seperti kata-kata diatas. Adalah sebuah petikan kalimat dari seorang desain grafis dari Jogjakarta bernama Budi Yuwono. Gambaran lengkapnya, dalam sebuah karya desain grafisnya, digambarkan sebuah sajadah yang digulung, lalu dituliskan petikan kata-kata itu. Sederhana, tapi sanggup membuat kita bercermin lagi tentang ibadah yang selama ini kita jalankan.

Seperti kenyataan yang ada, setiap bulan ramadhan masjid-masjid begitu ramai. Orang tua, remaja, anak-anak begitu riuh. Tah hanya saat menjelang buka puasa tiba. Orang-orang juga begitu bersemangat dalam menjalankan ibadah sholat taraweh bersama, mendengarkan kultum dengan semangat. Bahkan, di pagi haripun mereka berbondong-bondong menunaikan shalat subuh bersama di masjid. Pandangan yang, subhanallah.

Wajah demikian memang jarang, bahkan tak kita temukan di bulan selain ramadhan. Saat subuh tiba misalnya, masjid-masjid begitu sepi. Kalaupun ada yang sholat berjamaah bersama, tentu tak seramai di bulan ramadhan seperti sekarang ini. Namun, pemandangan selanjutnya, semakin mendekati lebaran, masjid masjid kembali seperti semula, menjadi sepi seperti biasanya.

Jangan Gulung Sajadahmu...

Apa yang engkau rasakan ketika membaca tiga kata itu? Saya kira, bagi mereka, khususnya seorang muslim yang taat, akan merasa tak enak hati, merasa begitu tersindir hatinya ketika menyadari bahwa kenyataannya, ibadah dan laku kebaikan yang dilakukan kian menyurut.

Memang tiga kata itu, “Jangan Gulung Sajadahmu” semacam kiasan. Agar, kita tak lekas menyudahi amal kebaikan dan kebajikan kita seperti yang kita kerjakan selama bulan ramadhan. Begitu juga, amalan-amalan yang kita kerjakan dengan sepenuh khusuk. Contoh kecil saja, mungkin di hari biasa kita malas untuk sholah berjamaah, di bulan ramadhan kita mendadak rajin sholat berjamaah. Akankah kebiasaan ini akan lekas kita tinggalkan?

Pesan kecil dari semua ini, jangan lekas kita sudahi kebiasaan baik ini. Biarkan sholat berjamaah menjadi kebiasaan bagi selama 11 bulan berikutnya. Begitu juga misalnya kebiasaan untuk berusaha sabar dan menahan amarah. Lihat saja, di bulan ramadhan, pengendara mobil maupun motor di ibukota lumayan sabar dan berhasil menahan amarah. Ketika mobil atau motornya diserempet orang, biasanya mereka akan maklum adanya. Oh, alangkah indahnya ketika hal demikian juga berlaku pada hari selain ramadhan.

Kini, lebaran sudah diujung mata. Tradisi khas orang Indonesia, mereka yang berada di perantauaan berbondong-bondong pulang ke kampung masing-masing. Saling bersilaturahmi, saling melepas rindu, saling berbagi cerita. Bersyukur mereka yang bisa menikmatinya, sebab banyak orang yang terpaksa menahan rindu, berteman kesepian. Tidak bisa pulang ke kampung karena berbagai hal. Uang yang tak cukup, pekerjaan yang masih menumpuk, tak kebagian tiket dsb.

Yang pasti, setelah kita disentil dengan sebaris kata karya seorang desainer grafis itu, membuat kita seharusnya malu diri. Sungguh, dia sebenarnya telah menjadi juru penyampai kebaikan, walau dengan satu “ayat” tapi sanggup membuat kita berkaca, membuat kita bercermin.

Bulan ramadhan sesungguhnya bulan penggemblengan. Hasilnya, tentu akan terlihat pada sebelas bulan berikutnya. Apakah kita akan lebih rajin beribadah? Apakah kita akan lebih giat lagi berderma? Apakah kita akan lebih peduli pada kaum yang kekurangan? Apakah kita akan lebih rajin lagi menabur kebaikan?

“Jangan Gulung Sajadahmu”...

Atas salah kata
Khilaf tanpa sengaja
Mohon maaf atas semuanya
Semoga Allah selalu memberkahi
Dan meridhoi kita

SELAMAT BERHARI RAYA

Jakarta, akhir Ramadhan 2009

Senin, September 14, 2009

Kritik Sinetron Ramadhan

Kritik Sinetron Ramadhan
:sudaryono achmad
(Pengamat media, tinggal di Jakarta)

Tayangan sinetron ramadhan belum cukup baik. Begitu pendapat saya ketika ditanya mengenai tayangan ramadhan, khususnya program sinetron yang ditayangkan. Jawaban tersebut sengaja saya jawab agak diplomatis untuk tak mengatakan tayangan tersebut sepenuhnya masih terlampau buruk untuk kesehatan jiwa. Tidak enak sama para pegiat, awak dan para pemain sinetron.

Mengenai sinetron sendiri, saya kerap mencuri waktu untuk sekedar menonton tayangan sinetron “Para Pencari Tuhan (3)”. Saya kira sinetron tersebut, lumayan baik. Mencoba menterjemahkan ajaran-ajaran agama (Islam) dalam serangkaian adegan dan dialog. Dikemas dalam tayangan yang lucu dan tentu saja menghibur. Jujur saya tak rugi waktu ketika menonton tayangan tersebut. Kita patur memberi acungan jempol kepada Wahyu HS, sang penulis skenario.

Selebihnya, saya tak banyak menonton tayangan sinetron yang ada. Mengenai tayangan sinetron sendiri, ada pemantauan dan kajian menarik yang dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kita patut memberikan apresiasi kepada lembaga ini yang turut serta melakukan pemantauan media dikala sangat jarang lembaga lain yang melakukannya.

Hasilnya, MUI mencatat bahwa tayangan sinetron yang ada belum sesuai dengan spirit ramadhan. Ciri umum ketidaksesuaian dengan spirit ramadhan adalah banyaknya dialog dan adegan yang saling merendahkan, melecehkan, serta makian kasar. Selain itu, spirit Ramadhan hanya diserap sebagian program dan hanya sekadar aspek simboliknya. Bahkan bukan simbol Islam, tapi simbol budaya Arab, seperti unta, aksen bicara bergaya Arab, dan padang pasir.

MUI juga mengkritik setidaknya tiga sinetron yang ada. Ketiga sinetron tersebut adalah Tangisan Isabela pukul 18.00-19.00, Jiran yang ditayangkan pukul 19.00-20.00, dan sinetron Inayah pada pukul 20.00-21.00. Ditayangkan oleh stasiun televisi Indosiar.

Dalam Tangisan Isabela (Produksi Soraya Intercine Film) , di sana sangat kental kata-kata kasar secara vulgar. Misalnya adu jotos dan adu mulut antara Imran dan Faris hingga Imran menodongkan pistol di pelipis Faris. Begitu juga berhamburannya kata-kata kasar dan makian di antara keduanya. Tayangan ini juga dinilai merendahkan dan melecehkan martabat perempuan. Misalnya tampak dalam adegan menyakiti, menculik, menyandera hingga mengikat Isabela di tempat tidur. Pada adegan tersebut, orang-orang di sekitar membiarkan dan tidak ada tindakan atau ucapan yang mengoreksi tindakan tersebut.

Pada sinetron Jiran (Diproduseri Ram Soraya) menonjolkan adegan kekerasan secara vulgar. Contohnya, kekerasan terhadap Jiran oleh kerabat Sultan dalam upaya menyakiti Jiran dan menggugurkan kandungan. Sinetron Jiran dianggap minim unsur pendidikan dan hanya membangkitkan sentimen anti-Malaysia.

Sementara, dalam sinetron Inayah penuh dengan kekerasan dan tidak mendidik. Jam tayang Inayah digeser setelah tarawih, sepertinya sinetron ini berusaha memanjakan penontonnya walau Ramadhan, dengan menunggu mereka pulang tarawih. Begitu pantauan MUI yang cukup detail dan saya kira kita perlu berterimakasih pada lembaga ini yang masih mau susah-susah memantau media.

Kajian lain, kali ini dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang juga mencatat dan memberikan data menarik (dalam pekan pertama ramadhan), Hasil pantauaan secara umum, ditemukan setidaknya ada 450 adegan yang tidak layak tayang pada program Ramadhan. Adegan tersebut mengandung unsur kekerasan dan pelecehan dalam tayangan yang ditampilkan. Tentu termasuk dalam tayangan sinetron.

Mencermati kenyataan demikian, apa yang perlu kita lakukan? Selama ini, kita mungkin dibuat jengkel atas tayangan-tayangan tersebut. Namun, kejengkelan tersebut hanya kita simpan dalam hati saja. Tentu, yang demikian belum produktif dalam konteks perubahan. Kita (sebagai publik) perlu melakukan langkah-langkah solutif yang lebih nyata.

Selama ini, memang telah ada semacam gerakan HARI TANPA TV, digagas oleh Kidia (Kritis Media untuk Anak), salah satu lembaga yang fokus dalam pemantauan media, khususnya yang berkaitan dengan tayangan terkait isu anak. Gerakan moral demikian penting untuk membangkitkan kesadaran akan perlunya sikap kritis dalam bermedia (mengkonsumsi televisi).

Selain gerakan moral, gerakan yang selangkah lebih maju juga perlu dilakukan dalam rangka mewujudkan tayangan sinetron maupun tayangan televisi lain menuju lebih baik. Baru-baru ini, sebuah lembaga yang menamakan diri Communicare Institute (Sentra Kajian Media dan Budaya Massa) yang bermarkas di Depok membuat gerakan yang disebutnya gerakan “Sejuta Surat Protes untuk Tayangan Televisi Bermasalah”. Saya kira gerakan ini perlu kita dukung sama-sama demi perubahan dari kuasa media (televisi) menjadi kuasa publik.

Teknisnya, sederhana saja. Jika Anda merasa ada tayangan televisi yang bermasalah. Tiap satu orang yang peduli, silakan mengirimkan satu surat protes baik ke KPI, maupun televisi yang bersangkutan, untuk setiap program televisi yang bermasalah. Bentuknya bisa melalui surat, SMS, e-mail yang berisi protes dan keberatan atas sebuah tayangan. Peduli dengan gerakan ini? Take Action. Lakukan sekarang juga. [ ]

Cikeas, 14 September 2009