Sabtu, Juni 02, 2012

Perkara Mengirim Senja

Perkara Mengirim Senja
:yons achmad*

Suatu senja di Stasiun Kalibata
Dug dug dug dug…Dug dug dug dug

Saya mengejarnya. Malah tersungkur dan jatuh.
Seorang gadis berjilbab lumayan manis terbahak. Sialan.

Kereta menuju Depok melambai puas. Saya mesti menunggu kereta berikutnya. Sebagai penggila senja, ketika ada acara yang berbau senja, saya pasti mengejarnya. Ya, di sebuah toko buku Jalan Margonda, senja itu memang diadakan bincang buku “Perkara Mengirim Senja”. Sebuah buku kumpulan cerpen yang diperuntukkan kepada sastrawan Seno Gumira Ajidarma (SGA).

Saya datang pertama kali. Bangku masih kosong. Baiklah, untuk perkara senja saya selalu sabar menunggunya. Pelan-pelan peserta bincang diskusi mulai berdatangan. Yang, kebanyakan memang lebih banyak para penulisnya yang datang daripada pesertanya. Tak mengapa, barangkali perkara mencintai senja memang oleh Tuhan hanya ditujukan untuk orang-orang tertentu saja. Ya, begitulah alasan iseng untuk menghibur diri.

Acara mulai. Dua penulis mulai bercerita perihal bukunya.
Saya belum terkesan. Malah saya agak bergumam “yaah”.
Ya, karena salah satu penulis mengaku baru baca satu dua cerpen SGA saja.

Tapi baiklah. Tentu sebuah keberanian tersendiri dengan pengetahuan yang sedikit tentang SGA sudah berani menafsir ulang dengan menulis sebuah cerita berdasar cerita-cerita SGA. Ini tentu lebih bagus, sebuah langkah maju dari sekedar membaca karya-karya SGA saja.

Sepulang acara itu saya baca bukunya “Perkara Mengirim Senja” Jujur saya belum terkesan. Cerita-cerita di dalamnya bercorak cerita-cerita metro pop yang belum “nyastra”. Ini menurut saya. Memang, saya terkesan akan sampul/kaver buku serta ilustrasi-ilustrasi di dalamnya. Tapi ini bukan yang saya cari. Saya mencari sebuah narasi yang barangkali lebih dahsyat dari karya-karya SGA. Hanya saya belum menemukannya.

Tapi ya tak apa-apa. Kadang kita memang tak selamanya menemukan apa yang kita cari. Hanya, sebagai sebuah terobosan kreatif industri penerbitan buku, langkah teman-teman penulis muda yang mengapresiasi dan mendedikasikan karyanya untuk seorang penulis senior perlu mendapat tepuk tangan. Perkara ada yang beli atau tidak buku hasil karyanya itu lain soal. Perkara penulis itu menulis, bukan menjual buku. Sekali lagi ini hanya perkara menghibur diri.

Senja memang bukan monopoli SGA. Siapapun boleh menulis cerpen dan novel tentang senja.

Puthut EA pernah ngomong, penulis itu mesti tahu “Apa yang Akan Ditulisnya” dan tahu “Bagaimana Cara Menuliskannya”.

Eh. Tapi, bagi saya perlu ditambah satu “Untuk siapa karya itu ditulis”

Jadi, senja ini akan dikirim untuk siapa? Mari memperkarakannya.

*penikmat secangkir teh

Selasa, Mei 15, 2012

Without You


Without You

Softly you called to me
Across the space between
Across eternity
Where love winds a path unseen

Out of the wilderness
You beckoned my every step
I stumbled sometimes and yet
I never once looked back

‘Cos I would see
The man I know I used to be
How I was lost before you reached for me
No I don’t know
Where I would go
What I would do

Without You
Without You
Without You

Like a heart between beats
I would feel nothing you see
If you took your love from me
I don’t know what more would life mean?

I’d use my final breath
To call out your name and let
That breath upon the breeze
Rise like a kiss to thee

So you might see
Just what your love has meant to me
And what the cost of losing you would be
No I don’t know
Where I would go
What I would do

Without You
Without You
Without You

‘Cos I would see
The man I know I used to be
How I was lost before you reached for me
No I don’t know
Where I would go
What I would do

Without You
Without You
Without You


Artist: Sami Yusuf
Album: Without You
Melody: Sami Yusuf

Jumat, Mei 11, 2012

Cerita Ubud: Surganya Bali

Cerita Ubud: Surganya Bali
:yons achmad*


Ubud, Bali, melambai-lambai
Saya orang yang mudah jatuh cinta
Dan kali ini saya kembali tergoda...

Suatu hari di bulan Mei (2012) Tuhan menerbangkan saya ke sana. Ubud: Surganya Bali: Begitu kata orang. Sudah pasti, Tuhan memang sedang berbaik hati. Sekian lama bekerja, bekerja dan bekerja (maaf agak sedikit hiperbola), akhirnya impian ke tempat ini tercapai juga. Walau jujur, sebenarnya tak ada yang saya cari di tempat ini. Saya hanya membiarkan ke mana angin akan membawa.

1,5 jam nyasar-nyasar naik motor dari Denpasar, sampai juga di Ubud. Dan saya masih belum ada rencana akan kemana, akan mengunjungi apa, bertemu dengan siapa. Dalam urusan traveling, saya memang payah. Lalu, tiba-tiba ingatan melayang. Saya pernah dikasih hadiah oleh seorang teman Tionghoa beragama Katholik, novel Bahasa Inggris berjudul “Eat, Pray and Love” karya Elizabeth Gilbret. (Kamu apa kabarnya?)

Dalam novel itu, ia bercerita soal makan dan terpuaskan di Itali, soal spiritualitas ia jumpai di India. Dan di Bali ia menemukan cinta. Beberapa waktu kemudian novel itupun di filmkan. Salah satu tempat shooting film itu Bali. Tepatnya Ubud. Tanpa pikir panjang, saya telusuri saja jejak “pray, eat, love” itu.

Pasar Ubud. Sang Tokoh utama dalam film nampak mengunjungi tempat ini. Dan saya pun coba berjalan-jalan ke tempat ini. Saat saya kesana, waktu masih pagi, sekira jam 9-an, para pedagang cinderamata dan seni Bali baru mulai menata dagangannya. Saya teringat “anak-anak” saya. Lalu saya comot dua tas dengan tulisan “I Love Bali” sebagai kenang-kenangan nanti kalau kembali ke Jakarta. Setidaknya, ini oleh-oleh kecil dari seorang “ayah”

Napak tilas berlanjut ke Monkey Forest (Wana Wanara). Monyet-monyet berkeliaran dengan bebasnya. Saya tak masuk ke dalamnya. Hanya memandang dari pagar luar saja. Berlanjut menyusuri sawah-sawah menghijau. Saya merasakan ketenangan dan sebenarnya ingin berlama-lama, tapi waktu tak memungkinkan. Sebelum pulang, mampir, tepatnya di mampirkan ke rumah makan vegetarian oleh seorang teman. Karena teman itu ada urusan, saya tinggal sendirian. Disinilah pada akhirnya pikiran dan perasaan-perasaan saya tak karuan. Dan serbuan pertanyaan-pertanyaan tanpa ampun menanti jawaban-jawaban.

Love. Bicara tentang cinta, aduh. Biasa saja, setiap orang mengalaminya. Tapi biarlah. Saya biarkan jari jemari ini menari sesukanya. Saya memang pernah berteman dengan beberapa perempuan, dan selalu berakhir dengan tidak mengenakkan. Begitulah, ditambah lagi kelemahan saya adalah mudah mencintai dan susah melupakan. Alamaak. Sudahlah.

Tapi, dalam hidup saya punya prinsip, jangan pernah menyesal pernah mencintai. Dan, saya berjanji untuk tidak akan pernah membenci orang-orang yang pernah saya cintai. Rasa cinta tumbuh di sana, rasa cinta tumbuh di sini, semuanya membawa cerita. Selalu dan selalu saya tentu mengabadikannya.

Konyol memang, disaat teman-teman saya seangkatan sudah bangga memamerkan anak-anak mereka, saya malah masih berkutat pada sesuatu yang absurd, tidak jelas. Kadang saya tersenyum-senyum sendiri, ditengah berantakan dan kekacauan kenapa saya masih hidup saja. Entahlah. Lalu, dalam renung kecil, diam-diam muncul sesuatu yang mengganjal pikiran:

Sebuah pertanyaan yang belum terjawab
Apakah seseorang lebih menyukai perjalanan
Dibanding sebuah pernikahan?

Yah, barangkali mengajukan pertanyaan itu kadang memang lebih penting dari sekedar jawaban. Biarkan gelisah dan galau melanda. Hanya, kalau boleh berkhayal, kayaknya asyik kalau kegelisahan dan kegalauan ini tertumpah ruah. Jadi novel misalnya. Agak mengada-ada memang sebab saya tak mengerti sastra. Tapi, kalau misalnya dicoba, tentu tak ada salahnya ya.

Saya teringat novelis Puthut EA pernah berkata, untuk bisa menulis (novel) “Ia tahu apa yang akan diceritakan” dan “Ia tahu bagaimana cara menuliskannya”. Bagi saya, itu tak cukup, mestinya ditambah “Ia tahu untuk siapa novel itu ditulisnya”

Yang terakhir saya sudah menyimpan sebuah nama.
Baiklah, sementara ini ceritanya.

Selamat tinggal Ubud
Tunggu lagi kedatanganku
Dan kukembali akan cium keningmu...


*Penikmat secangkir teh.

Senin, Mei 07, 2012

Senja di Pantai Kuta

Senja di Pantai Kuta
yons achmad*

Ada dua jenis perasaan
Yang satu ditahan
Yang satu diucapkan

Saya orang gunung, selalu rindu pada pantai...

Sembilan bulan lalu saya mengkhayal. Alangkah asyiknya kalau bisa menikmati senja di Pantai Kuta, Bali. Selain untuk menghibur hati, kalau misalnya saya berhasil mendatangi tempat itu, bertekat menjadikannya salah satu bab dalam novel saya.

Syukur tak terkira, Tuhan mendengarkan doa kecil saya. Awal Mei (4-6) 2012 berhasil terbang ke sana. Dan: Apa yang saya khayalkan kesampaian. Barangkali, bagi yang bergaji besar, punya uang banyak, terbang ke sana bukan sebuah keistimewaan, bukan sebuah kemewahan. Tapi, bagi saya, ini bagian dari perjuangan. Ya, perjuangan mewujudkan mimpi-mimpi.

Sebuah senja di Pantai Kuta...

Saya duduk “menyendiri”. Memandang sekilas: anak-anak bermain bola, membuat rumah-rumahan pasir, wisatawan asing berjemur, orang-orang berenang memanjakan diri atau bagi yang punya nyali, berselancar mengikuti arah angin laut. Hanya sebentar saja. Lalu mata saya terpikat pada senja di laut lepas. Sebuah kenikmatan dan hiburan hati tersendiri. Oh indahnya Tuhan...

Sayang. Senja cantik itu hanya sebentar saja. Tapi, tak mengapa...

Sebenarnya, momentum senja di Pantai Kuta, saya hanya ingin jujur pada diri sendiri. Tapi payah. Tidak punya cukup nyali mulut ini berkata. Tentu semua ini bukan soal perasaan. Tapi tentang bisnis. Eh bukan bukan. Lagi-lagi saya harus berbohong. Payah.

Senja di Pantai Kuta.
Biarkan ini menjadi cerita.
Setidaknya dalam bab sekian (calon) novel saya...

*Penulislepas, tinggal di @senjakarta

Selasa, April 24, 2012

Suatu Senja di Salihara

Suatu Senja di Salihara
Oleh
Yons Achmad*


Sebuah sajak tertulis di kafe itu...

Di teras rumah makan
Kami kini berhadapan
Baru berkenalan
Cuma berpandangan
Sungguhpun samudera jiwa
Sudah selam berselam
Masih saja berpandangan

(Chairil Anwar)

Aha. Sajak sungguh menggoda. Ada-ada aja kau ini Chairil Anwar. Sajak itu cukup mengibur. Walau sejatinya isinya pedih perih.

Saya duduk di bangku pojokan. Menghayal ala kadarnya. Lalu mata bertemu pandang dengan seorang penjaga kafe. Oh ya, saya mesti memesan sesuatu. Saya bolak-balik daftar menu. Yups: secangkir teh tarek semenandjong dan pisang bakar yang terpilih. Oh Tuhan... nikmatnya.

Saya duduk sendiri. Dan, di bangku meja depan, Mas Goenawan Mohammad, penulis, penyair yang juga pendiri komunitas Salihara itu juga duduk sendirian. Matanya menerawang, entah apa yang dipikirkannya. Lalu dia memesan segelas minuman. Menyeruputnya. Lalu kembali hanyut menikmati layar tabletnya.

Apakah seorang penulis, penyair memang suka menyendiri?....

Waktu berjalan. Saya masih menunggu seorang teman yang masih mengajar di kampus UNAS, sekira 100 meter dari Salihara. Kita akan membicarakan strategi komunikasi seorang tokoh politik. Tapi, tiba-tiba bosan melanda. Saya kontak seorang teman.

“Kalau kamu ada waktu, datanglah kesini, kita bicara-bicara” Tapi tak ada balasan.

Ya sudah, seperti Mas Goen, saya coba menikmati kesendirian.

Suatu senja di Salihara, hanya ada satu pertanyaan yang muncul. Orang-orang liberal yang sedikit saja bisa membuat ruang budaya semacam ini. Bagaimana dengan orang-orang non liberal. Mereka tidak bisa atau bagaimana? Ataukah karena umat Islam sibuk berpolitik? Entahlah.

Sementara seorang lelaki sederhana sedang mati-matian menulis novel pertamanya...

*Penulislepas, tinggal di @senjakarta